APA BEDA S1, S2 DAN S3 PSIKOLOGI?

APA BEDA S1, S2 DAN S3 PSIKOLOGI

 

Menanggapi pertanyaan masuk ke saya tentang kasus yang lagi viral itu, maka saya akan jawab yang berkaitan saja yaitu tentang jenjang pendidikan dan profesi Psikologi.

Lulusan S1 Psikologi disebut ILMUWAN PSIKOLOGI. Mereka BUKAN Psikolog. Karena itu mereka TIDAK BOLEH melakukan praktek psikologi seperti psikolog. ILMUWAN PSIKOLOGI punya kewenangan untuk memberikan layanan dalam bidang : penelitian, pengajaran, supervisi dalam pelatihan, layanan masyarakat, pengembangan kebijakan, intervensi sosial, dan sebagainya (Kode Etik Psikologi, 2010).

Ilmuwan Psikologi tidak boleh melakukan asesmen, menegakkan diagnosa dan memberikan intervensi berupa psikoterapi untuk kasus-kasus psikologi baik berat maupun ringan. Artinya Ilmuwan Psikologi tidak boleh menggunakan alat tes (asesmen) dan melabel seseorang dengan gangguan tertentu (berdasarkan DSM).

PENDIDIKAN S2 PSIKOLOGI DIBAGI 2 YAITU SAINS DAN PROFESI DENGAN PENJELASAN SBB :

Lulusan S2 Sains Psikologi bukan Psikolog. Mereka lulus dengan gelar mirip Psikolog yaitu M.Psi. Ada pula yang gelarnya M.Si. Kebijakan tentang gelar dikembalikan pada Universitas dan pihak terkait lainnya. Mereka disebut Magister Sains Psikologi.

Magister Sains Psikologi tidak berhak praktek sebagai Psikolog. Mereka tidak boleh menangani kasus-kasus gangguan psikologis. Mereka bergerak dalam bidang pengembangan keilmuan psikologi, namun bukan penanganan klien.

Lulusan S2 Profesi Psikologi disebut Psikolog dengan gelar M.Psi, Psikolog. Gelarnya harus seperti itu. Menyatu antara gelar akademik (M.Psi) dan Profesi (Psikolog). Merekalah yang berhak praktek sebagai Psikolog.

Sesuai dengan UU Tenaga Kesehatan No. 36/2014, Pasal 11 yang menyebutkan bahwa Tenaga Kesehatan dikelompokkan dalam 11.b. tenaga psikolog klinis, maka seluruh Psikolog Klinis yang ada di Indonesia adalah tenaga kesehatan.

Konsekuensinya para Psikolog Klinis tersebut harus memiliki Surat Ijin Praktek dari Dinkes setempat serta harus terdaftar di Kemenkes berupa STR (Surat Tanda Registrasi).

Dalam Pasal 64 UU Nakes No. 36/2014 tersebut dinyatakan juga bahwa : setiap orang yang bukan Tenaga Kesehatan dilarang melakukan praktik seolah-olah sebagai Tenaga Kesehatan yang telah memiliki izin.

BAGAIMANA DENGAN PSIKOLOG YANG BUKAN PSIKOLOG KLINIS?

Mereka tergabung dalam organisasi Psikologi bernama HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia). Semua lulusan S1 Psikologi, S2 Sains, S2 Profesi, S3 Psikologi adalah anggota HIMPSI. Bukan secara otomatis, tetapi mereka7 harus mendaftarkan dirinya. Bila mereka tidak bergabung dengan HIMPSI, maka nama mereka tidak akan ada dalam database HIMPSI.

HIMPSI mengeluarkan juga Surat Ijin Praktik untuk para anggotanya yang sudah lulus pendidikan S2 Profesi atau lulusan S1 kurikulum lama. SIPP (Surat Ijin Praktik Psikolog) dikeluarkan oleh HIMPSI dan berlaku selama 5 tahun yang harus diperbaharui bila ybs masih berprofesi sebagai Psikolog.

SIPP tidak hanya berlaku untuk Psikolog Klinis, tetapi diberikan untuk semua Psikolog : Psikolog Forensik, Psikolog Pendidikan, Psikolog Industri, Psikolog Sosial. Di lapangan, bidang layanan rekan-rekan Psikolog tersebut akan beragam, namun semuanya memiliki SIPP. Hanya Psikolog Klinis yang memiliki 2 jenis Surat Ijin Praktek yaitu SIPP (HIMPSI) dan SIPPK (Dinkes).

PENDIDIKAN S3 PSIKOLOGI

Mereka yang ingin melanjutkan pendidikan dalam bidang Psikologi, dapat menempuh jenjang S3 Psikologi. Lulusan S3 Psikologi disebut dengan Doktor Psikologi. Mereka bukan Psikolog. Gelar Doktor (DR) tersebut adalah gelar akademik. Bukan gelar profesi. Sehingga mereka tidak diperkenankan membuka praktek psikologi.

PROFESI PSIKOLOG HARUS S2 MAGISTER PROFESI PSIKOLOGI

Lulusan S1 Psikologi BISA melanjutkan untuk mengambil S2 Magister Profesi Psikologi. Dan bisa mengambil S3 Psikologi. Mereka inilah yang disebut Psikolog.

Lulusan S1 BUKAN Psikologi TIDAK BISA mengambil S2 Magister Profesi Psikologi, tapi bisa mengambil S3 Psikologi. Mereka BUKAN Psikolog.

Lulusan S1 Psikologi + S2 Magister Sains Psikologi BUKAN Psikolog. Karena S2-nya Sains, bukan Profesi.

Lulusan S1 Non-Psikologi TIDAK BISA mengambil S2 Magister Profesi Psikologi karena S1-nya BUKAN Psikologi. Tapi bisa mengambil S3 Psikologi. Mereka BUKAN Psikolog.

Lulusan S1 Non-Psikologi + S2 Non-Psikologi + S3 Psikologi : JELAS BUKAN Psikolog.

Semoga lebih jelas.

Naftalia Kusumawardhani, S.Psi, M.si Psikolog

(kini dapat ditemui di Rumah Sakit Mitra Keluarga Waru. Beliau menamatkan pendidikan Sarjana Psikologi di Universitas Surabaya, lalu melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Airlangga. Memulai karirnya sebagai tenaga pengajar di Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya (1997-2008), Naftalia Kusumawardhani memutuskan untuk berkarir dalam bidang Psikologi Industri sebagai HRD di beberapa perusahaan diantaranya, Pentatrust, Super Brain, PT Rajapaksi Adyaperkasa, dan RS Siloam Hospitals Surabaya)

 

Penulis: Naftalia Kusumawardhani, S.Psi, M.si (Psikolog)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *