Character Building for Mental Revolution

Penulis : Ida Pramaesti, S.Psi. (Annderpati Life School & Counselling)

“Talents are best nurtured in solitude. Character is best formed in the stormy billows of the world“
Johann Wolfgang Von Goethe

Masih panas berita tentang efek adanya Covid 19. Imbasnya mulai terasa, dari perekonomian yang terguncang sampai kehidupan sosial masyarakat lainnya yang mengakibatkan terjadinya perubahan prilaku manusianya. Sedikit banyak Covid 19 menunjukkan keaslian wajah karakter rakyat negeri ini, yang tidak taat, susah diajak disiplin, egois, tidak jujur, seenaknya sendiri, terbiasa mengeluh dan masih banyak yang lain yang tidak memberi kontribusi positif bagi pembangunan bangsa.

Dengan karakter yang negative tersebut mengakibatkan penyebaran Covid 19 menjadi tak terdeteksi melalui orang-orang yang sulit untuk diatur sehingga menyusahkan pemerintah maupun masyarakat.

Ketika Presiden Joko Widodo mencetuskan Revolusi Mental yang mengambil ide dari Presiden sebelumnya yakni Presiden Soekarno, seharusnya para psikolog, sarjana psikologi bersorak sebab ini adalah kesempatan emas untuk menjadi Garda terdepan dalam pemulihan mental yang erat kaitannya dengan psikologi. Menindaklanjuti pencetusannya, pada Desember 2016, Presiden mengeluarkan Inpres No. 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Gerakan ini dimaksudkan untuk memperbaiki dan membangun karakter bangsa yang mengacu kepada nilai-nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong untuk membangun budaya bangsa yang bermartabat, modern, maju, makmur, dan sejahtera berdasarkan Pancasila. Adapun gerakan revolusi mental menurut Inpres tersebut meliputi lima program, yaitu Program  Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan Indonesia Bersih, Gerakan Indonesia Tertib, Gerakan Indonesia Mandiri, serta Gerakan Indonesia Bersatu.

Mental yang dekat dengan Ilmu Jiwa/Psikologi seharusnya menjadi PR utama dari institusi terkait termasuk Perguruan Tinggi yang ada Fakultas Psikologinya.

Apabila mengacu pada Inpres No 12 tahun 2016 tersebut sebenarnya tidak terlalu rumit untuk mengimplementasikannya. Break downnya jelas yakni membentuk karakter bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila yang di atas telah disebutkan yakni :

  1. Integritas
  2. Etos Kerja yang baik
  3. Gotong Royong

Melalui gerakan yang juga sudah disampaikan melalui 5 program yaitu :

  1. Gerakan Indonesia Melayani
  2. Gerakan Indonesia Bersih
  3. Gerakan Indonesia Tertib
  4. Gerakan Indonesia Mandiri
  5. Gerakan Indonesia Bersatu

Sebagai salah satu lembaga terkait yang berurusan dengan mental, lembaga psikologi seharusnya memberi perhatian yang sangat serius pada Inpres tersebut karena yang mengerti tentang mental adalah psikologi.

Harus diakui memang dunia psikologi di Indonesia masih belum begitu bersuara secara massive sebagai sebuah kegerakan untuk ikut terlibat dalam pembentukan karakter bangsa yang diharapkan dari adanya Revolusi Mental. Psikologi masih berkutat untuk menancapkan jati diri supaya diakui keberadaannya di dunia pendidikan Indonesia termasuk dalam dunia profesionalitas kerja.

Tidak bisa disalahkan karena memang juga dibutuhkan untuk eksistensi keberadaannya di masyarakat. Namun psikologi yang ada di Indonesia semestinya ikut melibatkan diri dengan lebih tajam bagi pembangunan Negeri ini, karena masa depan psikologi pasti juga mendapatkan imbasnya.

Sebenarnya apabila lembaga psikologi ikut terlibat dalam pembentukan karakter bangsa (Character Building) secara tidak langsung juga merupakan upaya untuk menancapkan eksistensi keberadaan psikologi. Imbasnya pada pembangunan bangsa akan sangat dirasakan. Otomatis nama psikologi pasti terangkat. Ini akan terjadi bila lembaga psikologi melakukan sebuah gerakan atau gebrakan aplikatif program-program yang sudah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo.

Revolusi mental pada dasarnya tidak hanya dibebankan kepada birokrasi sepenuhnya, namun masyarakat juga perlu melakukan revolusi mental untuk menciptakan kondisi yang harmonis dan selaras secara bersama-sama dengan birokrasi termasuk lembaga psikologi yang erat kaitannya dengan mental.

Apabila lembaga psikologi ikut terlibat dalam ancangan Presiden Joko Widodo terkait revolusi mental dengan membangun kesadaran masyarakat, niscaya covid 19 dapat cepat teratasi penyebarannya. Psikologi berperan aktif dalam pembentukan karakter, tidak sekadar mengatasi gejala gangguan psikis masyarakat akibat covid 19.

Melakukan sebuah perubahan besar memang membutuhkan pengorbanan yang juga besar tetapi buah dari pengorbanan tidak akan pernah sia-sia apabila untuk kejayaan bangsa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *