COVID-19, MENYIASATI KEKHAWATIRAN

 

” Kekhawatiran adalah suatu manipulasi pikiran secara negatif ” ( anonim ).

Saya tak tahu, kapan terakhir kali merasakan kesedihan, kekhawatiran bahkan kepanikan melanda kehidupan dunia seperti saat-saat ini. Saat Covid-19 mewabah dengan kecepatan tinggi dan masif ke seantero jagat.

Tak perlu kita pertanyakan, apakah pada saat keluar rumah untuk bekerja atau untuk suatu keperluan lain misalnya, kita ragu2 dan was-was kalau terpapar virus ini ?

Kita khawatir atau was-was karena kita tak pernah tahu, ia menyerang kita atau tidak. Kalau menyerang, kapan serangan itu akan datang. Kalau diserang, apakah kekebalan tubuh kita cukup kuat untuk mengalahkannya. Kalau diserang, apakah lembaga atau para ahli medis sanggup menolong kita. Kita tak tahu pula, sampai kapan pandemi penyakit ini akan berakhir.

Kekhawatiran-kekhawatiran itu sungguh2 manusiawi. Bohong besar kalau saya sendiri tidak khawatir mengenai hal ini.

Kekhawatiran-kekhawatiran ini sungguh menyengsarakan, membuat pikiran resah gelisah. Bisa membuat makan tak enak, tidur tak nyenyak. ” Satu hari kekhawatiran jauh lebih melelahkan dari seminggu bekerja “, kata John Lubbock. Sementara kata Dale Carnegie, ” Kelelahan kita seringkali bukan karena kita bekerja, tapi karena khawatir, frustrasi ataupun rasa benci “.

Dalam situasi-situasi semacam ini, selalu ingatan saya kembali pada nasihat Harry Truman, ” Jangan pernah berdoa untuk mendapatkan kemudahan dalam hidup. Tapi berdoalah untuk menjadi orang yang kuat dan makin kuat “.

Benar. Secara alamiah, mengarungi kehidupan itu akan melewati pasang surutnya gelombang. Kadang ada saatnya gelombang yang datar dan nyaman. Kadang datang gelombang badai yang besar yang mampu menjungkirkan kapal kita. Dan begitulah kodratnya, kehidupan tak selalu mudah. Dan karena itulah ada nasihat tetua, ” Kita tak akan mampu merubah arah angin. Yang mampu kita lakukan adalah menyesuaikan layar perahu kita “.

Sekali lagi, menjalani kehidupan adalah tantangan yang tak selalu mudah. Dalam konteks ini, saya mencoba mencontoh orang-orang yang punya semboyan ‘berani hidup’.

Berani hidup dalam arti menjalani kehidupan dengan tujuan ” bahagia dan bermakna “. Bahagia, per definisi yang saya anut adalah ” pikiran selalu nyaman, tenteram dan damai ( NTD )” . Bermakna, dalam artian, memberikan manfaat seoptimal mungkin bagi kehidupan sesama.

Meraih NTD, yang berarti harus mengalahkan segala kekhawatiran dalam situasi pandemi Corona ini, saya mencoba memikirkannya sebatas kemampuan saya.

Khawatir soal Corona, saya kembali mengingat, bahwa tiada satupun orang di jagat raya ini yang tahu apa yang akan terjadi, kecuali Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Kalau saya terus-terusan khawatir, apakah bukan artinya saya termasuk orang yang sok tahu ?

Saya beberapa kali membaca pesan pinisepuh ini, ” 90 % apa yang Anda khawatirkan, dalam kenyataannya kemudian, itu tak pernah terjadi “. Saya ingat pula satu nasihat lain, ” Kekhawatiran adalah suatu manipulasi pikiran secara negatif “.

Dan secara spiritual, dikatakan, ” Tuhan Yang Maha Kuasa tak akan memberikan beban cobaan yang melebihi kemampuan umat Nya “.

Alih-alih khawatir, mari kita coba berpikir lebih positif. Kita gali apa saja dalam pikiran yang membuat kita harus berSYUKUR, bukan khawatir. Bersyukur, bersyukur dan bersyukur. Karena kaidah spiritual telah menyatakan, siapa yang pandai mensyukuri nikmat Nya, ia akan balasan nikmat yang lebih banyak. Sebaliknya, menjauh dari sikap bersyukur, akan jauh pula kita dari nikmat Nya.

Bersyukur masih menyadari adanya bahaya wabah ini. Bersyukur diri dan keluarga dan kerabat juga sehat2 saja. Alhamdulillah. Bersyukur bisa membeli vitamin dan rempah2 tradisional, yang konon, bisa membantu menangkal virus itu.
Bersyukur atas semua nikmat dan karunia Nya.

Tidak mudah memang melakukan apa- apa yang saya tuliskan di atas. Jauh dari mudah. Tapi bukankah peperangan terbesar adalah peperangan melawan diri sendiri ?

Dan selebihnya, di luar segenap usaha kita sesuai anjuran aparat kesehatan yang harus kita lakukan dengan disiplin, dua hal lagi yang layak kita lakukan. Pertama, ikhlas, berserah diri kepada Nya Yang Maha Kuasa atas segenap ketentuanNya menyangkut diri kita. Dia Maha Tahu yang terbaik bagi umat Nya.

Dan terakhir, berpikir, berucap dan bertindak baik sebanyak-banyaknya kepada sesama. Karena disitulah ‘makna keberanian hidup’ kita bagi sesama. Karena disitulah Ia Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan memuliakan kita, karena sesuai janji Nya, ” Umat yang paling mulia adalah orang-orang yang pandai memberikan manfaat bagi sesama “.

Tak usah muluk2 dalam usaha bermakna itu. Yang wajar2 saja, yang sesuai kemampuan kita. Karena, ” Tak semua orang mampu melakukan hal-hal besar. Tapi semua orang mampu melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar “.

Jakarta 18 Maret 2020

Pongki Pamungkas
Penulis buku-buku ” Life and Management Wisdom Series “.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *