Isa Wahyudi Beberkan 3 Masa Seseorang Hadapi Pandemi Covid-19

Wakil Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Cabang Malang Isa Wahyudi menyatakan terjadi shock culture diawal berlakunya beberapa kebijakan pemerintah saat pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia.

Menurut Isa, seseorang dalam pemenuhan kebutuhan psikologinya yang dicari rasa nyaman dan aman. Saat semua sudah terpenuhi dan tiba-tiba turun level seperti sekarang ini, tentu bakal merubah perilaku yang dimunculkan seperti emosi, pola pikir, perilaku pribadi, kebiasaan, bahkan sampai komunikasinya.

“Persoalan covid-19 yang datangnya mendadak ini menjadikan masyarakat harus menyesuaikan keadaan meskipun butuh waktu,” kata Isa dalam dialog interaktif bertajuk “Menjaga Kesehatan Batin & Akal di tengah Pandemi Covid-19” di Malang, Selasa (08/04).

Menurut Isa, terdapat 3 masa seseorang menghadapi pandemi Covid-19.

Pertama, masa ketakutan, dimana seseorang mudah mendapatkan teror berita hoax dan langsung ikut share info apapun dari medsos.

“Seseorang mengalami panic buying sehingga menimbulkan ketegangan, mudah marah bahkan belanja sesuatu secara berlebihan seperti obat-obatan, masker dan menimbun logistik,” kata Isa.

Kedua, masa belajar. Menurut Isa, setelah rasa takut, cemas, khawatir itu terlewati maka dirinya mulai menerima kenyataan dengan menstop baca berita yang menimbulkan kecemasan termasuk menseleksi berita hoax.

“Mereka menyadari situasi dan diri sendiri dengan mulai mematuhi himbauan/protokol pemerintah, mampu mengendalikan emosi. Mulai bertindak tidak belanja berlebihan dan merencanakan tindakan yang lebih baik,” terangnya.

Ketiga, masa tumbuh. Masa dimana suatu ketika cepat atau lambat seseorang tidak lagi sekedar memikirkan diri sendiri melainkan mulai memikirkan orang lain.

Isa yang merupakan penggagas Kampung Budaya Polowijen (KBP) itu mengatakan, seseorang akan menggunakan bakat dan krativitas ketika berhadapan dengan masa sulit seperti pandemi Covid-19 ini.

“Dengan kemampuanya seseorang mulai sekedar berbagi bahkan sampai pada aksi peduli,” imbuhnya.

Selanjutnya, seseorang mulai mampu menjaga emosi dan saling berempati satu dengan yang lain terkait denga pandemi Covid-19.

Seseorang mulai mampu mengungkapkan rasa terima kasih dan mengapresiasi atas tindakan-tindakan yang nyata terkait dengan masalah ini.

“Secara terus menerus seseorang akan berkontemplasi sekaligus mencari cara beradaptasi terhadap perubahan,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *