LANJUTAN TENTANG PENDIDIKAN PSIKOLOGI

LANJUTAN TENTANG PENDIDIKAN PSIKOLOGI

Oleh : Naftalia Kusumawardhani, S.Psi, M.si Psikolog

Status saya sebelumnya sudah panjang sekali. Tidak mencakup hal-hal detail tentang pendidikan psikologi. Namun karena ada permintaan untuk menambahkan informasi, maka saya buatkan status lanjutan ini.

KURIKULUM LAMA PENDIDIKAN S1 PSIKOLOGI

Lulusan S1 Psikologi dengan kurikulum lama sekitar tahun 1980an – 1990an (saya tidak ingat persisnya) disebut Sarjana Psikologi dengan gelar S.Psi. Lulusan sebelum itu (sejak tahun 1970an) bergelar Dra/Drs.

Mereka memperoleh gelar profesi sebagai PSIKOLOG melalui pendidikan tambahan yang diselenggarakan oleh HIMPSI yaitu Pelatihan Psikodiagnostika selama kurang lebih 1 minggu. Kok sebentar? Karena jumlah SKS kurikulum lama sudah banyak sekitar 160an SKS, sehingga tambahan Psikodiagnostika itu dianggap cukup untuk memberikan gelar psikolog. Setelah pelatihan, peserta menjalani ujian dulu untuk mendapatkan SRIP (Surat Rekomendasi Ijin Praktik) dan baru mendapatkan SIPP kalau dinilai lulus dan layak. #ufff..

Urusan belum selesai sampai di situ. Psikolog yang berasal dari kurikulum lama tersebut masih harus mendapatkan pengukuhan dari HIMPSI bahwa mereka adalah psikolog dengan SSP (Surat Sebutan Psikolog). Kalau kurikulum baru SSP ini tidak diperlukan. Untuk Psikolog Klinis, bukan hanya SSP yang harus mereka miliki tapi juga Surat Pengukuhan Psikolog Klinis yang diterbitkan oleh IPK (Ikatan Psikolog Klinis) Pusat.

Setelah tahun 1993 (kalau tidak salah), pendidikan profesi Psikologi mengalami perubahan kurikulum. Dengan arah baru tersebut, seorang lulusan S1 Psikologi WAJIB mengikuti Pendidikan S2 Magister Profesi Psikologi untuk mendapatkan gelar profesi : Psikolog. S2 Magister Profesi meluluskan dengan gelar M.Psi, Psikolog.

SURAT IJIN PRAKTIK PSIKOLOGI (SIPP) HIMPSI

SIPP berlaku 5 tahun dan harus diperpanjang kalau masih ingin berkiprah sebagai Psikolog. Kebijakan HIMPSI Jatim dalam proses perpanjangan SIPP tersebut adalah wawancara. Psikolog ybs bertemu dengan 3 orang panelis dalam bidang sama, berdiskusi dan saling memberikan masukan. Kata sebagian teman sih itu ujian. Dengan proses wawancara tersebut, HIMPSI Jatim mengetahui kualitas masing2 psikolog yang berpraktek di wilayah Jatim.

Harapannya tidak ada Psikolog yang melakukan penyimpangan sehingga tidak ada juga masyarakat yang dirugikan. Selain wawancara tersebut, Psikolog ybs menyerahkan sejumlah dokumen portofolio sebagai bukti bahwa diriya masih berpraktek dan layak untuk dinilai kompetensinya oleh HIMPSI sebagai induk organisasinya.

Dokumen portofolio itu dikumpulkan dalam waktu 5 tahun dan terdiri dari beberapa jenis kegiatan mulai dari praktek, pengembangan diri dan pengabdian masyarakat.

STR dan SIPPK UNTUK PSIKOLOG KLINIS

Khusus untuk Psikolog Klinis, perjalanan masih panjang. Selain wajib punya SIPP dari HIMPSI, mereka juga harus terdaftar di Kemenkes sebagai salah satu tenaga kesehatan (bukan tenaga medis ya). Melalui STR (Surat Tanda Registrasi) para Psikolog Klinis sudah mencatatkan namanya. Setelah punya STR, Psikolog Klinis harus mengurus SIPPK (Surat Ijin Praktik Psikolog Klinis) ke Dinkes setempat. Namun belum semua Dinkes paham soal ini. Sosialisasi terus menerus dilakukan oleh IPK Indonesia agar seluruh anggotanya bisa mengurus SIPPK dengan lancar.

STR berlaku 5 tahun. Perpanjangan STR diterima bila Psikolog Klinis tersebut sudah memiliki 100 SKP (Satuan Kredit Profesi) dalam waktu 5 tahun tersebut. Ada 5 unsur kegiatan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan 100 SKP tersebut.

SIPPK juga berlaku selama 5 tahun. Syarat perpanjangannya adalah memiliki STR yang masih berlaku. Mulai kebayang betapa sulitnya menjadi Psikolog Klinis ya?

KREDENSIAL UNTUK PSIKOLOG KLINIS

Psikolog Klinis yang bekerja di Rumah Sakit diwajibkan untuk mengikuti proses kredensial untuk memastikan kompetensi dan bekerja sesuai kewenangan klinisnya. Proses kredensial Psikolog Klinis dilakukan oleh OP (Organisasi Profesi) Psikolog Klinis yaitu IPK (Ikatan Psikolog Klinis) Indonesia melalui ujian tatap muka. Seorang Psikolog Klinis menghadapi 2 orang penguji dari IPK Indonesia. Udah nggak usah tanya apa aja yang ditanyakan. Apakah pasti lulus? TIdak selalu.

Dengan demikian kualitas dan standard layanan psikolog klinis selalu dalam pemantauan organisasi baik HIMPSI maupun IPK Indonesia.

Semoga semakin jelas dan menguatkan niat untuk menemui psikolog terdekat bila sedang bermasalah.

Naftalia Kusumawardhani, S.Psi, M.si Psikolog

(kini dapat ditemui di Rumah Sakit Mitra Keluarga Waru. Beliau menamatkan pendidikan Sarjana Psikologi di Universitas Surabaya, lalu melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Airlangga. Memulai karirnya sebagai tenaga pengajar di Fakultas Psikologi Unika Widya Mandala Surabaya (1997-2008), Naftalia Kusumawardhani memutuskan untuk berkarir dalam bidang Psikologi Industri sebagai HRD di beberapa perusahaan diantaranya, Pentatrust, Super Brain, PT Rajapaksi Adyaperkasa, dan RS Siloam Hospitals Surabaya)
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *