Like a Sybil

 

Kepribadian majemuk atau ganda bagi psikolog yang mengambil core klinis pasti kenal. Sebuah keadaan di mana dalam diri seseorang berdiam beberapa kepribadian yang terkadang muncul tanpa disadari oleh penderitanya. Sesungguhnya ada kerinduan dari setiap jiwa manusia untuk mengenali siapa dirinya yang sejati supaya hidupnya terarah. Jika hal itu tidak terjadi maka muncullah kegelisahan-kegelisahan yang akan mengganggu kehidupannya.

Adalah seorang psikiater yang bernama Dr. Cornelia B. Wilbur yang menemukan sosok yang bernama Shirley Ardell Mason. Seorang perempuan yang didiagnosa memiliki 16 kepribadian di dalam dirinya. Kepribadian itu sering “mengambil alih” tubuh Shirley sehingga mengalami black out. Mereka adalah: Clara, Helen, Marcia, Marjorie, Mary, Mike (laki-laki), Nancy Lou Ann Baldwin, Peggy Ann Baldwin, Peggy Lou Baldwin, Ruthie, Sid (laki-laki), Sybil Ann, Sybil Isabel Dorsett, Vanessa Gaile, Victoria Antoniette Shcarleu (Vicky) dan pribadi terakhir yang tak diketahui namanya.

Semua pribadi, agar lebih enak saya sebut personal saja, yang sama sekali tidak diketahui Shirley, seolah-olah merupakan orang lain yang memakai raga Shirley dan mereka ‘mengenal’ Shirley dengan baik. Personal-personal itu juga memiliki usia yang berbeda-beda, hobi berbeda, Bahkan tingkat keyakinan terhadap agama yang berbeda. Pada saat diskusi dengan Dr. Wilbur, personal-personal itu sering muncul dan menyebabkan Shirley bertanya kepada dokter, “apa yang telah saya lakukan?”. Personal-personal itu, dalam dialog dengan Dr Wilbur juga sering merasa kasihan kepada Shirley , yang tidak bisa marah, ceria dan bahkan menangis saat ia seharusnya melakukan sehingga mereka sesekali merasa perlu muncul ke permukaan menggantikan peran Shirley. Masing-masing personal itu benar-benar “menggantikan” peran Shirley, sampai kepada hafalan perkalian, kemampuan menyanyi,seni menggambar dlsb sehingga membuat orang2 disekitarnya merasa heran kenapa Shirley yang kemarin begitu hafal perkalian ,ceria , tenang dan cerdas dan tanpa sebab mendadak melupakan semuanya dan menjadi seorang pemurung atau seseorang yang pemarah atau bahkan kekanak-kanakan .

Setelah Shirley, yang kehadirannya diwakili oleh personal yang lain, menjalani psikoanalisa oleh Dr Wilbur, ditemukanlah trigger-trigger mengapa kepribadiannya pecah. Shirley mendapat siksaan yang luar biasa dari sang ibu , yang mengidap schizoprenia, sejak kecil tanpa pencegahan dari sang ayah sedikitpun. Hal itu, secara tidak langsung membuat Shirley tidak mampu mengungkapkan kemarahan, kesedihan dan emosinya. Selain itu, nilai2 yang dianut secara ketat oleh orangtua Shirley , namun kadang dinafikkan secara vulgar dihadapan Shirley juga menjadi salah satu pemicu munculnya personal-personal lain dalam dirinya, personal-personal yang tidak terima akan penerimaan Shirley terhadap lingkungan yang menekan dan mengabaikan dirinya.
Akhirnya setelah 11 tahun melakukan psikoanalisa, Dr. Wilbur berusaha menyamakan usia seluruh personal melalui hipnotis dan berusaha meyakinkan untuk memenuhi keinginan-keinginan masing2 personal. Seperti kenyataan bahwa Shirley sangat membenci ibunya yang telah menyiksanya, yang dinafikkan oleh Shirley karena norma mengatakan bahwa seorang anak tidak boleh membenci ibunya. Dan Shirley yang sebelumnya tidak bisa marah, tidak bisa menangis pun akhirnya bisa mengungkapkan emosi-emosinya.

Hal ini pun berhasil membuat personal-personal lain untuk menerima kondisi Shirley , seperti Vicky yang sebelumnya selalu berharap ibunya akan datang menjemputnya dari Paris, akhirnya mengakui bahwa Hattie Dorsett / Ibu Shirley adalah ibunya juga. Perlahan-lahan, trauma-trauma lain dibuka dan pada akhirnya Shirley pun berhasil mengungkapkan emosinya dan berhasil menolak penekanan-penekanan terhadap dirinya. Dan seiring waktu berlalu, semakin banyak personal yang menyatukan diri sebagai Shirley sehingga Shirley pun menjadi Shirley yang satu.

Kisah Shirley yang dibukukan dengan mengganti nama menjadi Sybil ini meledak di pasaran. Schreiber menulis buku itu berdasarkan keterangan dari Shirley dan Dr. Wilbur. Banyak perdebatan bertaburan seiring munculnya buku tersebut. Kebanyakan datang dari para ilmuwan yang berkecimpung di dunia psikologi atau kejiwaan. Ada yang tidak percaya, ada yang percaya.

Yang menarik dari kisah Shirley ini adalah bagaimana si Psikiater, Dr. Wilbur menyatukan kembali sosok-sosok sejumlah 16 itu menjadi Shirley. Menyatukan disini mengindikasikan adanya pecahan-pecahan yang berantakan. Tidak mudah untuk menyatukan 16 personal yang sangat beragam, baik usia, jenis kelamin maupun kepribadiannya.

Bisa dibayangkan, menyatukan 3 personal saja sudah berat apalagi 16 personal. Tercatat, Dr. Wilbur butuh 11 tahun untuk menyatukannya melalui proses hipnotis, mengaduk-aduk alam bawah sadar Shirley supaya keluar semua emosi yang selama ini disimpannya rapat-rapat. Cukup lama.

Apakah kisah seperti Shirley, masih ada saat ini, seorang anak yang hidup dalam tekanan psikis yang keras dari lingkungan terdekatnya? Disebutkan oleh Dr. Wilbur setelah kasus Shirley, masih ada kasus kepribadian ganda, hanya tidak se-ekstrim Shirley.

Kata kuncinya, kekerasan yang menjadi biang keladinya. Dan kekerasan tersebut bisa fisik, bisa juga psikis. Bila diparalel dengan kondisi negeri ini yang di masa lalu akrab dengan kemiskinan, kebodohan yang melahirkan kekerasan, pasti kasus seperti Shirley bertebaran, manusia yang belum menemukan sosok dirinya.
Jika dianalisa secara psikologis, munculnya 16 kepribadian tersebut seseorang karena kebutuhan akan role model tak didapatinya sehingga muncul kebingungan mencari siapa dirinya.

Kebutuhan akan role model inilah yang menuntut seseorang mencari kesana kemari sosok yang menurutnya bisa ditiru yang diduplikasi menjadi dirinya. Pertempuran terjadi ketika dia tidak kunjung menemukan dirinya karena yang namanya role model pasti bukan dirinya sendiri. Jiwanya selalu gelisah karena sejak lama menjauh dari dirinya. Ada semacam kekecewaan akan dirinya imbas dari perasaan sial telah lahir dari lingkungan yang memedihkannya.

Efek dari orang yang belum menemukan siapa dirinya menciptakan terjadinya inkonsistensi prilaku seolah ada beberapa orang yang berbeda di dalam dirinya. Dan hal itu tidak disadari oleh orangnya sendiri. Dia mengalami bipolar, perubahan emosional yang tiba-tiba datang dalam waktu sekejap atau gangguan manic depresif.

Kadang senang luar biasa namun bisa tiba-tiba marah atau sedih luar biasa.
Kasus seperti Shirley, banyak terjadi di sekitar kita, seseorang yang tidak tahu siapa dirinya efek kekerasan yang disebabnya karena kemiskinan dan kebodohan yang demikian parahnya. Juga bisa disebabkan orang tua yang tidak sepakat dalam mengasuh anak seperti yang dialami Shirley, ibu yang keras dan bapak yang tidak berbuat apa-apa melihat kekerasan itu.

Sayangnya disini, di dunia Timur, gangguan kejiwaan cenderung disembunyikan, efek ketertutupan. Gangguan kejiwaan masih dianggap aib yang memalukan sehingga pengidapnya sering sulit mengakui.
Masih banyak orang tidak sadar akan pentingnya kesehatan jiwa di negeri ini sehingga hampir tidak tersentuh dan disentuh.

Bagi sebagian orang, tidak gila dianggap sehat padahal gangguan kejiwaan tidak selalu gila atau schizophrenia. Sayangnya banyak orang tidak paham bahwa gangguan kejiwaan, pikiran 95% menjadi penyebab penyakit fisik.
Seandainya Shirley tidak ketemu Dr. Wilbur, entah apa yang terjadi dengan dirinya. Jika dibayangkan mungkin kita akan bertemu dengan pemeran teater. Mana mungkin orang mau mempekerjakan seorang yang mudah berubah kepribadian dan moodnya? Apa tidak sedih dan kebingungan apabila ada seorang istri/suami punya pasangan yang tidak bisa ditebak perangainya?

Tiba-tiba senang luar biasa namun dalam sekejab bisa marah luar biasa atau sedih luar biasa? Sedangkan untuk penderitanya sendiri, pasti membuat sesak dan selalu bingung ketika menghadapi sesuatu karena ada banyak personal di dalam dirinya dengan pola pikir yang berbeda tanpa ia sadari karena sudah menetap sehingga terkadang muncul perilaku yang tidak bisa dia kontrol.

Maka jangan heran jika pengidapnya menjadi lamban dalam mengambil keputusan apapun, tidak percaya diri bila melakukan sesuatu sendirian yang disertai ketidakmandirian sebagai efek tidak percaya diri. Atau kalau sedang emosional tinggi bisa cepat tapi tanpa menggunakan nalar. Dan pikiran yang kacau balau demikian pasti menimbulkan psikosomatis dan usia yang pendek.

Kisah Shirley dalam Sybil memang fenomena yang luar biasa karena telah membuka tabir adanya gangguan kejiwaan efek kekerasan yang dialami seseorang yang menyebabkan hilangnya jati diri seseorang dan muncullah sosok-sosok kepribadian lain imbas dari proses pencarian yang tak kunjung usai sampai dia menemukan kesejatian dirinya. Dan itu butuh seorang ahli yang melakukannya. Dunia timur masih tertutup untuk sebuah pengakuan jujur tentang kondisi seseorang yang dianggap aib yang memalukan sehingga butuh terapi tanpa perlu pengakuan apapun dari penderitanya.

Cukup datang, diam lantas sembuh. Apakah sudah ada? Ada!!. Cocok untuk orang timur yang sulit untuk menceritakan kondisi dirinya.

Penulis: Ida Pramaesti, S.Psi
Annderpati Life School & Counselling

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *