Pentingnya Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikologi pada Pandemi Covid-19

Menurut WHO (2020), munculnya pandemi menimbulkan stres pada berbagai lapisan masyarakat. Meskipun sejauh ini belum terdapat ulasan sistematis tentang dampak COVID-19 terhadap kesehatan jiwa, namun sejumlah penelitian terkait pandemi (antara lain flu burung dan SARS) menunjukkan adanya dampak negatif terhadap kesehatan mental penderitanya.

Penelitian pada penderita SARS menunjukkan bahwa dalam jangka menengah dan panjang, 41—65% dari penderita mengalami berbagai macam gangguan psikologis (Maunder, 2009). Sebuah penelitian di Hong Kong menunjukkan bahwa masalah psikologis pada penderita SARS tidak berkurang dalam kurun waktu satu tahun setelah kejadian. Bahkan, diperkirakan 64% dari penderita berpotensi mengalami gangguan psikiatrik (Lee, dkk., 2007).

Adapun faktor risiko terbesar untuk mengalami berbagai distres psikologis terdapat pada perempuan dan tenaga kesehatan. Sebuah penelitian yang juga dilakukan di Hong Kong bahkan menunjukkan bahwa 30 bulan paska infeksi SARS, 25.6% dari penderita mengalami Post Traumatic Disorders (PTSD) dan 15.6% mengalami gangguan depresi. Secara rata-rata, setidaknya 30% penderita mengalami salah satu dari gejala tersebut (Mak dkk., 2009).

Berdasarkan penelitian tentang dampak tsunami pada tahun 2004, maka semua masalah kesehatan jiwa meningkat hampir dua kali lipat setelah 12 bulan, yaitu gangguan jiwa berat (Severe Mental Disorder) dari 2-3 % menjadi 3-4 % gangguan jiwa sedang ke berat (Mild to Moderat Mentas Disorder) dari 10 % menjadi 15-20%, sedangkan distres psikososial sedang ke berat (Mild to Severe Psychosocial Distres) mencapai 30-50%, dan distres psikososial sedang (Mild Psychosocial Distress) 20-40% (WHO, 2005).

Kondisi kesehatan masyarakat terkait penularan virus corona dibagi menjadi orang tanpa gejala, orang dengan pemantauan, pasien dengan pengawasan, dan orang yang menderita COVID-19. Belum ada penelitian yang mengukur masalah kesehatan jiwa dan psikososial masyarakat terkait dengan pandemi ini, namun berdasarkan hasil penelitian WHO (2005) saat bencana tsunami, maka perlu segera dilakukan promosi kesehatan jiwa dan psikososial, pencegahan terjadinya masalah kesehatan jiwa dan psikososial, serta mendeteksi dan memulihkan masalah kesehatan jiwa dan psikososial.

Mengingat adanya risiko peningkatan masalah kesehatan jiwa dan gangguan kejiwaan akibat COVID-19 di masyarakat, maka perlu disusun pedoman dukungan kesehatan jiwa dan psikososial terkait pandemi COVID-19

Tujuan umum :
Memberikan pedoman dukungan kesehatan jiwa dan psikososial terkait pandemi COVID-19 kepada masyarakat.

Tujuan khusus:

  1. Orang sehat mendapatkan promosi dan pencegahan masalah kesehatan jiwa dan psikososial;
  2. Orang tanpa gejala (OTG) COVID-19 mendapatkan promosi dan pencegahan masalah kesehatan jiwa dan psikososial;
  3. Orang dengan pemantauan (ODP) COVID-19 mendapatkan promosi, pencegahan dan pemulihan masalah kesehatan jiwa dan psikososial;
  4. Pasien dengan pengawasan (PDP) COVID-19 mendapatkan promosi, pencegahan dan pemulihan masalah kesehatan jiwa
  5. Pasien yang confirm COVID-19 mendapatkan promosi, pencegahan, pemulihan dan rehabilitasi masalah kesehatan jiwa dan psikososial;
  6.  Kelompok rentan mendapatkan perlakuan khusus untuk promosi, pencegahan, pemulihan dan rehabilitasi masalah kesehatan jiwa dan psikososial;
  7.  Tenaga kesehatan yang memberikan layanan mendapatkan promosi dan pencegahan masalah kesehatan jiwa dan psikososial;
  8. Tenaga non kesehatan yang memberikan layanan mendapatkan promosi dan pencegahan masalah kesehatan

Secara global istilah ‘Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) atau Mental Health and Psychososcial Support (MHPSS)’ digunakan dalam Panduan Inter Agency Standing Committee (IASC) dalam Situasi Kedaruratan, yang berarti dukungan jenis apa pun dari luar atau lokal yang bertujuan melindungi atau meningkatkan kesejahteraan psikologis dan/ atau mencegah serta menangani kondisi kesehatan jiwa dan psikososial. DKJPS dipakai berbagai pihak untuk merespons kondisi kedaruratan maupun bencana, salah satunya pandemi COVID-19.

DKJPS mengintegrasikan pendekatan biologis, psikologis, dan sosiokultural di bidang kesehatan, sosial, pendidikan dan komunitas, serta untuk menekankan perlunya pendekatan-pendekatan yang beragam dan saling melengkapi dari berbagai profesi dalam memberikan dukungan yang sesuai. DKJPS dalam Situasi Kedaruratan mengedepankan berbagai tingkatan intervensi agar diintegrasikan dalam kegiatan respons pandemi. Tingkatan-tingkatan ini disesuaikan dengan spektrum kebutuhan kesehatan jiwa dan psikososial dan digambarkan dalam piramida intervensi (Gambar), mulai dari mempertimbangkan aspek sosial dan budaya dalam layanan-layanan dasar, hingga memberikan layanan spesialis untuk orang-orang dengan masalah kesehatan jiwa dan psikososial yang lebih berat.

Prinsip-prinsip utamanya adalah jangan menyakiti, menjunjung hak asasi manusia dan kesetaraan, menggunakan pendekatan partisipatif, meningkatkan sumber daya dan kapasitas yang telah ada, menjalankan intervensi berlapis dan menjalankan tugas dengan system terintegrasi.

Sumber: PEDOMAN DUKUNGAN KESEHATAN JIWA DAN PSIKOSOSIAL PADA PANDEMI COVID-19 Diterbitkan oleh Direktorat Pencegahan Dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa Dan Napza, Direktorat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *