Perang tanpa penaklukan (revolusi mental)

Bila pada saatnya (semoga segera) COVID-19 berlalu, dan orang kembali kepada kehidupan normal.

Kembali menikmati kebersamaan, makan dan minum bersama. Tetapi tidak akan sama dengan sebelumnya. Sesuatu berbeda jelas ada. Tidak akan ada lagi orang berbangga dengan hedonisme dan kapitalisme. Karena kapitalisme sudah keok dihantam pasar yang sepi akibat Corona. Tidak ada lagi agama bersuara paling suci dan paling benar. Karena pusat kota suci ditutup dari teriakan menganggungkan Tuhan.

Tuhan tidak ada di keramaian. Tuhan ada dalam diri orang perorang. Tidak akan ada lagi sosialisme yang bangga dengan kerumunan. Corona telah membubarkan kerumunan.

Tanpa disadari COVID-19 telah melahirkan social engineering secara revolusioner. Sesuatu yang tak mungkin dilakukan oleh manusia sepanjang sejarah. COVID-19 adalah virus super kecil seukuran nano ternyata perkasa mengubah segala paradigma tentang kapitalisme, sosialisme, agamisme, dan apalah, yang telah bertahan berabab abad.

Hanya hitungan hari dan bulan, semua berubah. Semua dipermalukan oleh COVID-19. Semua menyembunyikan kepalanya dibalik tubuhnya seperti kura kura. Kepongahan kehilangan sudah reputasi.

Kemudian manusia akan terpesona di tengah ruang kosong, dan harapan baru, ozon yang mulai melapisi bumi kembali, udara yang mulai bersabahat. Orang baru sadar, andaikan tidak ada pentas drama kolosal lockdown Wuhan, tentu tidak ada message tersampaikan kepada seluruh dunia. Tentu kehadiran Corona akan di ignore seperti virus lainnya. Virus satu hal dan China sebagai messenger lain hal.

China tidak pernah mengirim ideologi dan kebudayaan keluar dari rumahnya. Namun lewat drama kolosal Wuhan, China telah memberikan pesan perubahan untuk kehidupan yang lebih baik dalam kebersamaan tanpa ada sekat perbedaan. Tidak ada senjata dan propaganda seperti iklan kapitalis. Tidak ada propaganda ala komunis yang memaksa orang percaya, Tidak ada propaganda jihadis yang membujuk orang mati sahid. Semua patuh, tanpa paksaan atas nama apapun. Perubahan terjadi secara elegant dan egaliter.

Kemenangan tertinggi adalah mengalahkan dan menundukkan musuh tanpa melakukan pertempuran. Sebagaimana sikap : Digdaya tanpa aji. Nglurug tanpa bala. Menang tanpa ngasorake.

Penulis :

Wiwik Siri Hardijati
Senior Psikologi Malang
Founder Sanggar Cendekia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *