Stay At Home : Kelola Stres Hadapi COVID-19

COVID-19 yang semakin mengkhawatirkan, kecemasan dan stress pada diri pun ikut meningkat.

Pemberitaan tentang Virus covid-19 yang akhir – akhir ini membanjiri seluruh media masa maupun di sosial media yang membuat kalang kabut seluruh penjuru dunia. Kecemasan dan kekhwatiran pada kondisi yang masih belum menentu ini akan menimbulkan stres tersendiri di masyarakat.

Stres disebabkan karena adanya ketidakseimbangan antara tuntutan (fisik dan psikis) serta kemampuan untuk memenuhinya. Stres bisa juga diartikan sebagai tanggapan seseorang, baik secara fisik maupun secara mental terhadap suatu perubahan di lingkungannya yang dirasakan mengganggu dan mengakibatkan dirinya terancam.

Adanya ketidak sesuaian antara kenyataan dan harapan ini bila berlangsung dalam jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan tubuh mengeluarkan hormon stres – terutama glukokortikoid dalam jangka panjang. Hormon-hormon ini mempengaruhi timus, tempat limfosit sebagai salah satu sel imun diproduksi, dan menghambat produksi sitokin / Oksitosin ini sering disebut hormon cinta, hormon yang terbukti dapat memicu berbagai efek fisik dan psikologis seseorang.

Stress yang dibiarkan terus menerus tentunya akan membahayakan bagi kesehatan fisik dan mental kita. Bahkan jika dibiarkan, maka lama kelamaan dapat berubah menjadi depresi yang tentunya akan merugikan.

Untuk itu sebisa mungkin dapat mengatasi stress sedari dini agar tidak memberikan dampak yang negatif yang akan memicu respon tubuh, baik secara fisik antara lain detak jantung menjadi cepat, otot menjadi kaku, Sakit Kepala Berkepanjangan, mengalami kerontokan rambut, menstruasi yang terganggu dan tekanan darah yang cenderung meningkat.

Sedangkan Secara mental stres dapat di tandai dengan susah untuk Berkosestrasi,Pikiran Kosong dan perubahan mood yang cepat .

Stres dan kecemasan dalam kadar tertentu memang akan menguntungkan, Yang biasa kita kenal dengan nama Eustress berarti stres yang baik. Stres yang ini menantang kita untuk menjadi lebih maju dan bersemangat menghadapinya. Contohnya ketika mahasiswa yang akan mengahadapi ujian akhir, untuk dapat lulus dengan baik maka ia akan berusaha untuk belajar dan mempersiapkanya dengan baik. Ujian akhir sebagai sumber stres ini memacu mahasiswa ini untuk jadi lebih baik.

Sedangkan stres yang buruk kita sebuat sebagai Distress. Stres yang ini membuat kita menjadi malas untuk melakukan aktivitas, bikin mudah sakit, tidak bersemangat, dan jadi lebih gampang emosi. Stres ini dampaknya tidak baik loh.

Disaat seperti sekarang dimana kondisi tidak menentu maka kita seyogyanya bisa mengelola stress dengan baik, seperti yang telah di uraikan diatas bahwa stress yang berkepanjangan akan meningkatkan hormon kortisol dan dapat menurunkan kekebalan sistem imun kita.

Hal ini sejalan dengan penelitian para para ahli  dari Ohio State University yang menunjukkan bahwa stres psikologis mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dengan mengganggu komunikasi antara sistem saraf, endokrin (hormon) sistem, dan sistem kekebalan tubuh.

Oleh karena itu, upayakan untuk mengelola stres dengan baik supaya kita dapat menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang positif misalnya membatik, melukis, menganyam dan lain sebagainya.

Stres yang berkepanjangan ini akan mempengaruhi otak serta kekebalan tubuh kita, Dalam psikologi kita mengenal istilah gangguan psikosomatis yakni penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh. Dimana pikiran mampu mempengaruhi tubuh sehingga penyakit tertentu bisa muncul atau diperparah.

Sering kita dapati kasus di mana klien merasa sudah melakukan semua hal dengan benar namun masih jatuh sakit. Bisa jadi hal ini disebabkan oleh stres atau kecemasan yang tidak dikelola dengan baik.

Dan untuk mengelola stres dengan baik kita memerluka strategi coping adaptif / konstruktif yaitu strategi yang mengurangi stres. Bisa kita lakukan dengan hal yang sederhana, misalnya dengan tidur cukup setiap harinya, melakukan hal-hal yang menyenangkan supaya tubuh dan pikiran Kita rileks, menghubungi atau berinteraksi dengan teman – teman baik melalui telphon seluler /sosial media, mengerjakan hobi, atau bisa juga dengan meningkatkan ibadah kita.

Sebaliknya apabila strateginya yang kita gunakan adalah coping maladaptif/ destruktif maka bisa jadi kita akan mengalami stres yang berkepanjangan depresi atau gangguan psikologis lainnya yang tentunya hal ini akan sangat tidak menguntungkan untuk kita dalam situasi seperi sekarang ini.

Untuk itu kita harus tetap berpikiran positif dan tenang agar mental kita sehat dan daya tahan tubuh tidak melemah, terapkan gaya hidup sehat, Kenali gejala-gejalanya, patuhi anjuran pemerintah dan selektif dalam menerima berita tentang covid-19.

MUAMILAH ANI SOLICHAH, M.Psi, Psikolog

Pengurus Himpsi Malang Bidang Kompetensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *