THE PEACE MAKER Sekelumit catatan perjalanan seorang Konselor Jalanan

 

Oleh : Ida Pramaesti, S.Psi
(Annderpati Life School & Counselling)

Sebuah tulisan kecil tentang kisah perjalanan yang mungkin dialami banyak kawan se umuran dengan saya yang saat itu memilih sekolah di PT hanya berpikir pokoknya negeri karena kalau negeri pasti berbiaya murah dan berkualitas baik. Tulisan ini buah perenungan, seorang Sarjana Psikologi yang hampir gagal menemukan kepuasan sebagai Sarjana Psikologi. Semoga bermanfaat bagi pembacanya.

Tahun 1986 adalah tahun saya masuk Psikologi. Saya tidak langsung mengenal dan memahami mengapa saya masuk jurusan Psikologi. Informasi masih terlalu minim. Internet belum begitu massive digunakan oleh semua kalangan. Internet masih barang mahal saat itu. Saya masuk dan berkenalan dengan Psikologi hanya karena saat itu Psikologi merupakan Program study yang relative baru di kampus, UNAIR sehingga saya berpikir lebih sedikit persaingannya untuk masuk.

Meskipun faktanya ternyata Psikologi sudah menjadi salah satu sasaran tujuan lulusan SMA saat itu meskipun belum masuk favorit seperti Hukum, Ekonomi atau Kedokteran. Ini dibuktikan dengan lolosnya saya ternyata mengalahkan 60 orang pesaing. Begitu diterima, saya tidak langsung memahami ilmu ini, bahkan malah sempat alami kebingungan. Saya yang pada waktu SMA jurusan IPA/Eksak harus berjibaku untuk mampu beradaptasi dengan yang mempelajari sesuatu yang serba tidak pasti plus tidak kelihatan oleh kasat mata yaitu Jiwa.

Sebagai seorang yang terbiasa dengan kepastian bukan hal mudah untuk memahami hal yang serba tidak pasti. Terbukti berulang kali mendapatkan nilai yang D sehingga harus mengulang. Ber-semester-semester saya masih tidak memahaminya bahkan ada seorang Dosen yang sempat mengingatkan saya supaya saya bergaul dengan teman yang lain. Saya tidak juga memahaminya.

Saya mengalami kegelisahan namun tidak ada yang mampu menjelaskan karena memang saya sendiri tidak memahami kegelisahan ini. Saya hanya tahu siapa diri saya yakni kalau melakukan sesuatu tidak mau setengah-setengah. Take it or leave it. Hendak meninggalkan sayang tapi meneruskan sangat nanggung. Sepertinya itu yang menyebabkan kegelisahan tak berujung. Akhirnya memang saya tetap kuliah meski mengambang.

Ber-semester-semester saya masih belum menyatu dan nyaman dengan Psikologi. Ketika banyak orang kagum dengan Psikologi, saya tidak terlalu antusias. Biasa saja sehingga menyikapinya juga biasa saja. Lulus ya biasa saja. Bekerjapun, meski menyandang gelar sarjana Psikologi, biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Itu sebabnya saya seperti tidak begitu menjadi pemilih saat menerima tawaran pekerjaan.

Tidak ada Bargaining position yang bagus. Kembali lagi, saya belum menyatu dengan Psikologi. Masih terlalu biasa saja. Hanya sebatas saya bisa ngetes ini itu, membuat skema kepegawaian, mengawasi karyawan supaya bekerja optimal, menjadi tempat curhat dan memberi solusi, di dunia pendidikan saya bisa mengarahkan murid untuk tahu cara berpikir yang sistematis, atau juga memotivasi orang supaya percaya diri. Itu saja yang bisa saya lakukan dengan keilmuan saya.

Psikologi belum begitu menguasai alam berpikir saya untuk mampu melakukan semua itu karena saya juga membaca buku lain untuk mampu melakukan semuanya seperti buku-buku ilmu sosial, buku manajemen serta buku pendidikan bukan pure Psikologi. Semua memberikan saya wawasan untuk melakukan apa yang sedang akan saya lakukan terkait status saya, bukan sebagai Sarjana Psikologi namun Pegawai perusahaan. Alih-alih sebagai HRD, saya lebih nyaman dengan status pegawai saja. Psikologi belum memberikan kepuasan pada batin saya dan membuat percaya diri menyandang gelar sarjana Psikologi

Sampai saya tiba pada titik balik hidup saya yang dimulai dengan rumah tangga saya yang di ujung tanduk. Pada saat itulah saat saya mulai menyentuh Psikologi secara hati, pikiran dan jiwa saya, total setelah saya tinggalkan semua aktifitas saya selama ini di dunia pekerjaan. Full saya terjun ke masyarakat. Pikiran saya mulai terfokus. Saya ingin mengerti benar Psikologi dan berharap bisa menjadi kendaraan yang saya pakai untuk hidup saya ke depan. Saya menganggap ini kuliah kedua saya dengan cara yang berbeda. Teori dan praktek sekaligus, pada waktu bersamaan. Tidak mudah untuk terjun ke masyarakat.

Saya seperti orang yang kebingungan pada awalnya. Tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Psikologi memang ingin saya jadikan kendaraan untuk hidup saya ke depan yang lebih baik namun ketika saya memakai gelar kesarjanaan saya ternyata saya membangun gap dengan masyarakat. Masyarakat, khususnya arus bawah belum akrab dengan Psikologi. Dan gap itu menyulitkan saya untuk bisa menyatu dengan masyarakat yang sangat beragam.

Saya butuh diterima oleh masyarakat tanpa ada perasaan rikuh supaya bisa terjun mempraktekkan ilmu, itu sebabnya saya tidak mau berbeda termasuk penampilan. Saya meletakkan diri saya sama dengan kebanyakan. Berbaur tanpa sekat. Mulai penampilan fisik sampai cara berbicarapun saya berupaya sama, setara. Dan setara itu ternyata membuat saya bisa diterima dengan baik oleh masyarakat awam sehingga mereka bisa terbuka bicara apa saja.

Saya memulai gerakan pada orang-orang yang saya kenal. Saya masuk ke dalam persoalan mereka dan mencoba menawarkan solusi. Tidak mudah pada awalnya karena saya mulai masuk ke dalam kasus yang lebih dalam dan detil yang biasanya disimpan rapat oleh orang timur padahal disitulah sering letak sumber masalahnya. Saya mulai membuka kembali buku-buku Psikologi terkait dengan Keluarga yaitu dunia Konseling plus buku-buku Psikologi yang lain termasuk Klinis, Psikologi lintas budaya, Perkembangan dan ilmu tentang body language/gesture dan semua buku yang saya butuhkan. Saya juga ikuti beberapa pelatihan terkait dunia Konseling. Saya meluaskan ilmu saya.

Pada satu kesempatan saya juga mengikuti sebuah acara yang pada mulanya saya tidak memahami fungsinya namun ternyata sangat besar efeknya bagi seorang Konselor, dimana otak saya dibersihkan dari sampah dan kotoran dari segala traumatis yang selama ini menjadi penghambat langkah saya sebagai konselor. Akhirnya saya benar-benar siap terjun ke dunia yang lebih luas dengan Psikologi Konseling sebagai core. Secara lahir batin karena beban yang selama ini memberati kepala dan jiwa sudah terkikis.

Berpuluh-puluh orang saya datangi dengan setiap hari keluar dari rumah. Menemukan kasus dan mencari solusi. Saya memakai system jemput bola karena tahu didatangi tidak mungkin terjadi pada masyarakat yang masih awam dengan Psikologi. Kasus demi kasus saya hadapi, mulai yang ringan sampai yang berat. Sembari saya sendiri menghadapi masalah saya dengan suami dan mencari jawabannya.

Saya harus mengakui ilmu Psikologi saya begitu minim sehingga memberi kesadaran bahwa saya harus kembali belajar. Setiap ada masalah langsung saya segera mencari jawabannya melalui buku dan informasi dari mana saja. Terus menerus saya melatih diri.

Seringnya berlatih tanpa saya sadari seiring waktu membuat saya mulai mudah menemukan masalah yang dialami seseorang dan mudah pula memberikan solusi yang pada awal proses saya butuh berhari-hari untuk menyelesaikannya. Saya sangat merasakan bedanya saat saya lulus menjadi sarjana Psikologi dengan setelah saya terjun langsung ke lapangan. Sekarang saya lebih percaya diri dengan keilmuan saya.

Butuh persiapan matang untuk terjun langsung ke masyarakat mengingat kondisi masyarakat yang belum akrab dengan dunia Psikologi. Masih banyak nilai-nilai sosial kultur masyarakat ketimuran menjadi penghambat keberadaannya. Salah satunya ketertutupan.

Saya butuh nyali, keberanian dan bicara apa adanya untuk melakukan sebuah gebrakan termasuk membuka mindset bahwa orang yang konsultasi dengan Sarjana Psikologi atau Psikolog bukan identik dengan orang gila.

Keberanian dan kekuatan harus ada karena efek dari membuka yang ditutupi adalah penolakan yang terkadang sampai pada penyikapan yang tidak menyenangkan. Tantangan lain yang juga harus disikapi supaya Psikologi mampu diterima oleh khalayak umum jangan berjarak karena jarak makin menciptakan ketertutupan, efek dari munculnya ketakutan atau segan. Intinya, untuk terjun ke masyarakat yang penuh ketertutupan dan ketakutan butuh keberanian, kecerdikan supaya mampu mengungkap yang terdalam. Dan ini perlu dilatih secara terus menerus.

Banyak hal yang saya petik sebagai pelajaran dan pengalaman berharga selama saya terjun ke masyarakat yang sangat beragam ini, selain saya bisa mempraktekkan Psikologi saya dan membuat makin percaya diri dengan keilmuan saya, ternyata bisa menjadi jalan kebahagiaan orang lain dengan cara menuntunnya menemukan dirinya sehingga mampu berprilaku positif yang menguntungkan bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sosialnya.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana dengan satu orang sehat jiwanya mampu memulihkan keluarganya. Yang luar biasa, perjalanan saya memulihkan keluarga bermasalah, saya mendapatkan efek yang sangat positif bagi pemulihan saya dan suami, secara tidak langsung mulai tumbuh saling pengertian dan memahami antara saya dan suami dengan mulai dari saya terlebih dahulu melalui cara mengenali diri dengan baik berikut potensi dan kecenderungan serta mengantisipasi supaya apabila terjadi konflik sudah tahu apa yang akan dilakukan.

Yang paling saya petik tentang Psikologi dan memberi pengertian yaitu bahwa ilmu ini harus dipahami dengan segenap hati, jiwa dan pikiran apabila ingin menyatu dan menguasai. Tidak cukup hanya dengan pikiran atau logika saja seperti yang saya lakukan saat perkuliahan. Bahkan bila perlu ditambah dengan penguasaan tentang keTuhanan/Agama karena sama-sama tentang hal yang tidak tampak. Akan sangat membantu memahami tentang Jiwa.

Mungkin ini hanya sebuah catatan kecil perjalanan saya menemukan esensi Psikologi, namun saya percaya akan memberikan pengertian yang luar biasa tentang Psikologi karena saya tahu di lapangan banyak Sarjana Psikologi atau Psikolog belum menemukan esensi dari belajar Psikologi.

Berdasarkan catatan perjalanan saya, ternyata Psikologi bukan hanya sebatas ilmu untuk menyembuhkan seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan atau penyakit kejiwaan belaka namun ada yang lebih mulia, Psikologi mampu menjadi Jalan perdamaian manusia yang mungkin selama ini luput dilakukan ilmu yang lain.

Psikologi mampu menjembatani manusia yang sedang berkonflik dengan manusia lain karena mampu memahami hal yang paling dalam dari manusia yaitu Jiwa yang tidak tampak namun acap menjadi sumber permasalahan yang tak terselesaikan yang dimulai dari komunitas terkecil sekaligus PR terberat manusia yang bernama Keluarga.

Andai dipahami, Kontribusi Psikologi bagi Indonesia yang saat ini sedang mengalami banyak tantangan dan cobaan sangat besar, mengingat Indonesia Negara yang beragam suku bangsa dan agama, sangat rawan konflik, sehingga membutuhkan jembatan yang mampu menjadi solusi yang menciptakan hidup yang penuh damai dan sejahtera. Menjadi suluh yang menjembatan semua perbedaan. Jembatan itu bernama PSIKOLOGI, The Peace Maker.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *